Sejarah Kolonialisme di Afrika: Tujuh Situs Warisan Dunia yang Masih Bertahan
Afrika memiliki sejarah panjang yang tidak terlepas dari pengaruh kolonialisme. Sejak abad ke-15, bangsa Eropa mulai memperhatikan kawasan ini dan berusaha menguasainya. Proses kolonisasi ini terus berlangsung hingga awal abad ke-20, ketika sebagian besar wilayah Afrika dikuasai oleh negara-negara Eropa seperti Inggris, Prancis, Portugal, dan Belanda.
Selama masa kolonial, banyak bangunan dan infrastruktur dibangun untuk mendukung pemerintahan dan ekonomi kolonial. Meskipun sebagian besar negara Afrika telah merdeka, beberapa situs warisan dunia masih bertahan hingga saat ini. Berikut adalah tujuh situs warisan dunia di Afrika yang berkaitan dengan sejarah kolonialisme:
1. Aapravasi Ghat

Pada tahun 1834, Inggris melarang perbudakan di seluruh wilayah jajahannya. Untuk menggantikan sistem perbudakan, mereka menerapkan sistem kerja terikat hutang atau indentured labor. Dalam skema ini, pekerja akan diberi upah dan dapat kembali ke negara asalnya setelah menyelesaikan kontrak kerja.
Aapravasi Ghat merupakan kantor imigrasi khusus yang menangani para pekerja migran. Terletak di Mauritania, tempat ini mulai beroperasi sejak 1849 dan menerima ratusan ribu imigran. Mayoritas pekerja berasal dari India dan akan diberangkatkan ke koloni-koloni Inggris di Afrika, Pasifik, maupun Karibia.
Awalnya merupakan bangunan milik Prancis, Inggris kemudian memperluasnya dengan toilet, jalur rel kereta api, dapur umum, dan rumah sakit. Aapravasi Ghat terus berfungsi hingga pertengahan 1920-an.
2. Asmara

Asmara, ibukota Eritrea, juga menjadi situs warisan dunia yang terkenal. Nama Asmara berasal dari kata Tigrinya yang berarti persatuan. Kota ini berada di ketinggian 2300 mdpl dan mulai dikembangkan oleh Italia sejak 1889.
Awalnya sebagai pangkalan militer, Asmara berkembang pesat sebagai pusat industri. Selama periode 1893–1941, kota ini dipenuhi dengan bangunan penting seperti kantor pemerintahan, pemukiman, toko, bank, gereja, bioskop, dan hotel. Kebanyakan desain bangunan ini berupa arsitektur Italia.
Namun, pembangunan dihentikan pada saat Perang Dunia II meletus.
3. Cidade Velha

Cidade Velha, yang artinya "kota tua" dalam bahasa Portugis, merupakan bagian dari Pulau Santiago di Cape Verde. Sebelum ibukota dipindahkan ke Praia, kota ini menjadi pusat penting dalam sejarah kolonialisme Portugis.
Kota ini awalnya dibangun oleh António da Noli, seorang penjelajah Genoa yang bekerja untuk Kerajaan Portugis. Pada abad ke-16 dan 17, Cidade Velha menjadi jalur perdagangan penting antara Afrika, Amerika Selatan, dan Kepulauan Karibia.
Sisa-sisa bangunan era kolonial seperti benteng pertahanan, gereja katholik, serta lapangan kota dengan tiang pillory masih bisa dilihat hingga saat ini.
4. Fort Jesus

Fort Jesus adalah benteng milik kolonial Portugis yang dibangun antara 1593–1596. Benteng ini terletak di Mombasa, Kenya, dan dirancang oleh arsitek Italia Giovanni Battista Cairati.
Dengan desain persegi simetris, Fort Jesus menjadi salah satu benteng militer bergaya Renaissance. Ini adalah satu-satunya benteng Portugis di kawasan pesisir Swahili yang mencakup wilayah Kenya, Tanzania, Mozambik, dan Komoro.
Benteng ini menjadi saksi keberhasilan pertama bangsa Eropa dalam mengendalikan jalur perdagangan di Samudra Hindia. Selama berabad-abad, benteng ini sering diperebutkan oleh berbagai pihak.
5. Mazagan

Mazagan adalah kota berbenteng yang dibangun oleh penjelajah Portugis pada awal abad ke-16. Konon, kota ini ditemukan saat para penjelajah sedang menuju India.
Di balik benteng, kita dapat menjumpai bangunan bergaya Gothic seperti Church of the Assumption. Setelah Portugis meninggalkan Maroko pada 1769, kota ini sempat terbengkalai selama puluhan tahun sebelum akhirnya diubah nama menjadi El Jadida.
Kini, El Jadida menjadi destinasi wisata favorit di Maroko.
6. Pulau Gorée

Pulau Gorée, yang terletak di Senegal, memiliki sejarah kelam sebagai tempat penampungan orang-orang Afrika sebelum dikirim ke Amerika sebagai budak. Sebelum kedatangan Portugis, pulau ini sudah dihuni oleh suku Lebu.
Pada tahun 1536, Pulau Gorée menjadi pusat perdagangan budak. Banyak dari mereka bekerja di perkebunan gula dan tembakau di Amerika Utara dan Karibia. Pulau ini berada dalam kuasa Portugis hingga 1817 sebelum beralih ke Prancis.
Meski Prancis menghentikan praktik perdagangan budak pada 1848, Pulau Gorée tetap menyimpan saksi-saksi sejarah seperti Maison des Esclaves dan Fort d'Estrées.
7. Pulau Robben

Pulau Robben, yang berarti "anjing laut" dalam bahasa Belanda, terletak di Afrika Selatan. Awalnya digunakan sebagai tempat transit kapal, Pulau Robben kemudian menjadi tempat isolasi bagi tahanan dan orang-orang yang dianggap berbahaya.
Selama era kolonial, Belanda dan Inggris menggunakan pulau ini sebagai tempat penjara. Selama Perang Dunia II, keamanan diperketat dengan pembangunan benteng.
Pulau Robben juga menjadi tempat penjara keamanan tinggi selama rezim apartheid. Nelson Mandela pernah ditahan di sini. Hingga 1996, pulau ini berfungsi sebagai penjara sebelum berubah fungsi menjadi museum.
Tujuh situs ini adalah contoh dari warisan sejarah kolonial yang masih bertahan hingga saat ini. Selain menjadi destinasi wisata, situs-situs ini juga menjadi saksi bisu dari sejarah panjang Afrika yang dipengaruhi oleh kolonialisme.