Langsung ke konten utama

"Kacamata Lain Negeri Matahari": Tiga Seniman Jepang yang Berbeda

Deskripsi Pertunjukan yang Mengundang Tawa dan Refleksi

Seorang lelaki berpakaian putih membawa tongkat dan benda yang tampak seperti lonceng dari kayu. Ia memasuki arena amphitheater, tidak dengan langkah yang tegap dan tegas. Kemudian meletakan tongkat tersebut dan kembali ke luar arena dengan membawa lonceng. Pada sisi lainnya, dua orang berpakaian putih meletakan lembaran yang tampak terbuat dari bahan kain seperti pakaian. Mereka melakukannya seperti sebuah ritual. Suara kerincingan lonceng terdengar. Lalu mereka memberi penghormatan dengan membungkukan badan ke segala arah.

Seseorang yang tadi menyimpan tongkat masuk kembali. Dua white man dengan kompak membuat musik pengiring dengan vocal mereka. Dengan gerakan komikal, suasana yang diciptakan mengingatkan pada acara Masquerade dari Jepang, yang tayang di salah satu stasiun televisi Indonesia.

Mereka bergerak seperti sedang melakukan senam dan aktivitas yang biasa dilakukan pada pagi hari. Sementara laki-laki tongkat itu menggunakan pakaian yang sebelumnya dijajarkan oleh dua white man pada adegan sebelumnya. Kemudian dengan iringan akapela, mereka bertiga bergerak bersama. Penuh semangat dan gembira.

Setelah berpangkain lengkap: setelan pekerja - kemeja putih, celana, dasi, dan jas, laki-laki tongkat itu pergi bekerja. Dalam perjalanan ia menemukan banyak hambatan. Sehingga ia harus melompat, berlari, melewati terowongan, bahkan bertemu seseorang yang mengambil jasnya dan menyembunyikannya di tengah-tengah penonton.

Dalam adegan tersebut, dua white man dengan gerakan tubuh yang luwes dan energik berperan menjadi benda halang rintang, terowongan, dan seseorang yang mengambil jas. Suasana komikal itu mengundang tawa penonton. Terlebih lagi saat lelaki berjas itu mengatakan 'panase' dengan logat Jepangnya, yang mengartikan dia kegerahan karena harus berlari.

Setelah itu, dengan benda imajiner, lelaki berjas mengajak dua white man untuk minum dan beristirahat. Lalu bel tanda kerja berbunyi. Mereka bertiga pun melakukan gerakan seperti sedang mengetik di atas tuts keyboard dengan cepat dan tak henti. Telepon sesekali berdering. Musik disko terdengar, sesekali white man menari, tapi mereka masih terus bekerja, hingga tertidur.

Adegan berjalan dengan sesekali berinteraksi dengan penonton dan mengundang tawa. Lalu mereka bertiga berkelahi dengan menggunakan tongkat yang pada adegan awal diletakan di salah satu sisi panggung. Dengan gerakan perkelahian yang konyol, berulang, dan menuntut perhatian itu, mereka berhasil mengocok perut penonton. Mengendurkan urat saraf yang sebelumnya diajak berkelana dalam penampilan Butoh dari Xue.

Laki-laki berjas pun melakukan selebrasi pada akhir pertunjukan dan mendapat seluruh spot light. Itulah lakon "Working Real Japanese Man" yang dibawakan oleh tiga seniman Jepang: Yamato, Wataru Oshige, dan Toshihiko Jo.

Kegelisahan Kolektif: Kelelahan Kerja

Pertunjukan yang mengundang tawa itu terkesan ringan dan membuat penonton bersantai. Tapi sesungguhnya ide dan konsep karya lahirlah dari kegelisahan kolektif mendasar. Dibalik budaya kerja yang tinggi dan kuat, ada harga yang harus dibayar mahal oleh warga Jepang: kelelahan fisik, tekanan mental, dan hilangnya waktu untuk kehidupan pribadi.

Usai pertunjukan yang berlangsung pada penutupan Lanjong Art Festival, 27 Agustus 2025 silam di Hutan Ladaya, Kutai Kartanegara itu, Kabar Priangan sempat mewawancarai ketiga seniman Jepang tersebut. Namun karena Waktu terbatas, informasi tidak bisa digali secara mendalam. Sehingga komunikasi lanjutan dilakukan melalui direct message pada media social Instagram pada Sabtu, 29 November 2025.

Etos kerja dengan disiplin, intens, dan penuh kesetiaan di Jepang lahir karena perpaduan nilai tradisional semangat gaman (bertahan dalam kesulitan), ganbaru (berjuang sekuat tenaga dan loyalitas).

Budaya kerja Jepang tidak hanya membentuk pola hidup para pekerja tapi juga mempengaruhi karya seni kontemporer. Salah satunya "Working Real Japanese Man" yang Kabar Priangan saksikan. Beberapa laman di internet juga melaporkan karya-karya seniman Jepang terpengaruh atau menjadikan budaya kerja di negeri matahari terbit tersebut sebagai tema. Baik secara eksplisit mengaitkan secara langsung dengan kehidupan kerja atau struktur sosial-ekonomi, atau kondisi pekerja dengan bentuk seni, dalam bentuk performance, video, instalasi, sastra, lukisan, dan lainnya.

Laman visualizingcultures.mit.edu memuat artikel dengan judul "Protest Art in 1950s Japan The Forgotten Reportage Painters" yang ditulis oleh Linda Hoaglund menuliskan banyak seniman paska perang di Jepang memilih menggunakan eni sebagai cara "melawan" otoritas, mengungkap penderitaan masyarakat, ketidakadilan, dan kondisi kerja keras yang dialami oleh pekerja kelas Bawah atau masyarakat marjinal.

The Museum of Modern Art bahkan menuliskan bahwa gerakan tersebut menunjukan bahwa seni di Jepang - terutama kontemporer dan avant garde tak jarang lahir dari kegelisahan social, ekonomi, dan politik, bukan sekedar pendcarian estetika.

Working Real Japanese Man: Kelucuan, Keseragaman, dan Keseriusan

Di awal pertunjukan, tongkat yang dibawa dan kebudian disimpan pada salah satu sisi panggung mungkin memiliki arti, selain dari pada fungsi ekspresi yang nantinya akan digunakan dalam adegan perkelahian yang konyol, dan mungkin juga menyakitkan karena benar-benar dibenturkan pada kepala Wataru (lelaki berjas). Tapi jangan berfikir terlalu jauh. Karena mereka bertiga tidak akan memberikan satu jawaban pasti. Semua tafsir diserahkan kepada penonton.

Dalam wawancara yang dilakukan selepas pentas, sembari berbincang ketiga seniman Jepang itu menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Kabar Priangan dengan bantuan penerjemah tentu saja. “Semua benar. Universal,” ujar Jo. Mereka percaya bahwa karya panggung tidak perlu satu makna tunggal; justru hidup karena keberagaman interpretasi.

Meski terkesan lewus dan santai pada pementasan, dibalik proses pembuatan karya tersebut, Wataru disebut-sebut sebagai koreografer dan sutradara pertunjukan. Ia bahkan menjadi sosok yang kerap mengubah keseriusan menjadi sesuatu yang menghadirkan humor tak terduga. “Kami melakukannya dengan serius,” kata Yamato, “tapi Wataru membuatnya lucu. Jadi seperti komedi, tapi tetap serius.”

Pertunjukan mereka berdiri di wilayah abu-abu antara teater, tari, dan komedi fisik. Kesederhanaan kostum putih dan gerak yang tampak konyol justru membuka ruang refleksi terhadap keseharian manusia. Chemistry yang kuat diantara mereka mempermudah proses penciptaan karya. Bahkan proses pembuatan "Working Real Japanese Man" ini mereka hanya membutuhkan lima pertemuan dengan tiga jam Latihan untuk setiap sesi.

Meski begitu, intensitas dan arah artistik yang jelas membuat karya tesebut matang dalam Waktu rekatif singkat. Sebelumnya, karya tersebut pernah di pentaskan di Banyumas. Yamato bahkan sebelumnya pernah dating ke Indonesia pada tahun 2017. Dan mereka hadir di Lanjong Art Festival 2025 tersebut atas undangan dari Direktur acara tersebut; Mimi Nuryanti.

Kenapa "Working Real Japanese Man"? Gaya komunikasi ketiga seniman Jepang yang penuh canda itu sebenarnya membuat Kabar Priangan bingung, apakah jawabannya serius atau main-main. Seperti saat ditanya prihal pemilihan judul, mereka menjawab: “Karena kami orang Jepang,” sambil tertawa.

Namun ada alasan lain yang lebih mendalam. Mereka melihat bagaimana orang asing memandang Jepang sebagai negeri yang seragam, sibuk, dan terkadang terlihat lucu karena pola hidup yang mirip satu sama lain. “Semua pakai baju hampir sama. Semua orang sibuk. Lucu,” kata mereka.

Dari pengamatan itu, mereka menciptakan pertunjukan yang menangkap esensi keseharian masyarakat Jepang — keseragaman, rutinitas, hingga humor yang muncul tanpa sengaja. Pertunjukan itu menjadi ruang pertemuan anatara kelucuan dan keseriusan, antara identitas budaya dan tafsir universal.

Dengan gerak yang komikal, konyol, tapi penuh presisi, ketiga seniman Jepang ini mengajak penonton untuk melihat negerinya dari kacamata yang lain: bukan sebagai negeri eksotis, tetapi sebagai manusia-manusia yang sama lucunya, sibuknya, dan rumitnya seperti kita semua.

Di akhir wawancara, mereka memperkenalkan diri secara singkat sambil membungkukan badan: “Nama saya Yamato. Terima kasih.” Terkesan berbincang, tapi Kabar Priangan mengambil makna lain: sebuah pernyataan sederhana yang terasa selaras dengan pertunjukan mereka — jujur, apa adanya, dan mengundang senyum.

Postingan populer dari blog ini

50 Soal Esai Bahasa Indonesia Kelas 2 Semester Baru dengan Kunci Jawaban

Soal dan Jawaban Esai Bahasa Indonesia Kelas 2 SD/MI Berikut ini adalah beberapa contoh soal esai dalam pelajaran Bahasa Indonesia untuk siswa kelas 2 SD/MI. Soal-soal ini dirangkum sebagai bahan belajar agar siswa dapat memahami materi dengan lebih baik. Cermati setiap pertanyaan yang ada dan berikan jawabanmu sendiri. Adanya kunci jawaban akan membantu kamu dalam mengoreksi hasil belajar. Semakin banyak latihan soal, semakin besar pula pengetahuan yang kamu dapatkan. Pertanyaan dan Jawaban Apa yang dimaksud dengan kalimat? Jawab: Kalimat adalah kumpulan kata yang memiliki arti dan dapat dipahami. Sebutkan contoh kalimat sederhana! Jawab: Contoh: Ibu memasak nasi. Apa itu huruf kapital? Jawab: Huruf kapital adalah huruf besar yang digunakan pada awal kalimat atau nama diri. Berikan contoh penggunaan huruf kapital yang benar! Jawab: Ani pergi ke Sekolah. Apa yang dimaksud dengan tanda titik (.)? Jawab: Tanda titik digunakan pada akhir kalimat pernya...

Enam Weton Ini Selalu Dihiasi Rezeki, Berkah Datang dari Segala Penjuru, Menurut Primbon Jawa

Kehidupan sering kali terasa ringan ketika seseorang merasa selalu didampingi oleh keberuntungan yang datang dari berbagai arah. Setiap langkah yang diambil tampaknya diiringi oleh peluang dan kesempatan yang tidak pernah terduga. Hal ini bisa menjadi pemicu bagi seseorang untuk tetap percaya diri dan mengambil tindakan tanpa rasa takut akan konsekuensi. Ada banyak faktor yang dapat memengaruhi perasaan seseorang tentang keberuntungan dalam hidup mereka. Bisa saja ini berasal dari lingkungan sekitar, dukungan dari orang-orang terdekat, atau bahkan dari cara seseorang melihat dunia. Ketika seseorang memiliki pandangan positif dan optimis, maka hal itu bisa membuka jalan bagi pengalaman-pengalaman baik yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Keberuntungan sering kali muncul saat seseorang siap menghadapi tantangan. Mereka yang tidak pernah menyerah dan terus berusaha, biasanya lebih mudah menemukan peluang yang tersembunyi. Kesiapan mental dan fisik menjadi kunci utama dalam me...

Luka Aceh Pasca-Bencana: Desa Hilang, Pemda Lumpuh, Warga Menanti Kehadiran Negara

Kondisi Darurat di Aceh Pasca-Bencana Di tengah keterpurukan yang terjadi setelah bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh pada akhir November 2025, masyarakat masih berjuang untuk bangkit. Wilayah-wilayah seperti Aceh Tamiang dan Aceh Utara mengalami kerusakan parah yang mengancam kehidupan sehari-hari. Kerusakan Berat di Aceh Tamiang Kabupaten Aceh Tamiang menjadi salah satu wilayah paling terdampak. Bupati Aceh Tamiang Armia Fahmi menjelaskan bahwa seluruh wilayah administratif di daerahnya terkena dampak bencana. Dari 12 kecamatan dengan 216 desa, semua terkena banjir bandang dan dalam kondisi lumpuh, baik dari segi pemerintahan, TNI-Polri, maupun perekonomian. Armia menyebutkan bahwa hingga saat ini, sebanyak 4.839 rumah warga hilang tersapu banjir, terutama di kawasan bantaran sungai. Selain itu, 8.509 rumah mengalami rusak berat, 9.366 rumah rusak sedang, dan 15.174 rumah rusak ringan. Armia juga menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak tinggal diam dan te...