
Renungan Harian Katolik: "Martir Cinta Kasih"
Hari ini, kita merayakan Pesta Santo Stefanus Martir Pertama. Hari ini juga merupakan hari Jumat, dengan warna liturgi merah yang menggambarkan darah dan pengorbanan para martir. Dalam renungan ini, kita akan melihat bagaimana iman dan cinta kasih yang luar biasa dapat menjadi kekuatan terbesar dalam menghadapi tantangan hidup.
Bacaan Liturgi
Bacaan pertama diambil dari Kitab Kisah Para Rasul 6:8-10;7:54-59. Dalam bacaan ini, kita menemukan kisah tentang Stefanus, seorang diakon yang penuh dengan karunia dan kuasa. Ia melakukan mukjizat dan tanda-tanda bagi orang banyak. Namun, ia juga menghadapi perlawanan dari beberapa orang Yahudi yang tidak menyukainya. Mereka mencoba membangkitkan ketidaksukaan terhadap Stefanus, tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh Kudus yang membimbingnya.
Ketika Stefanus berbicara, hati para anggota Mahkamah Agama sangat tertusuk. Mereka gertakan gigi dan menyeretnya keluar kota untuk dilempar batu. Dalam kesakitan dan kematian, Stefanus berdoa, “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.” Doa ini menunjukkan kepercayaannya yang utuh kepada Tuhan, bahkan dalam situasi terberat.
Mazmur Tanggapan mengingatkan kita bahwa kita dapat menyerahkan jiwa kita kepada Tuhan. Refrensi dari Mazmur 31:3cd-4.6.8ab.16bc.17 mengatakan, “Ke dalam tangan-Mu, Tuhan, kuserahkan jiwaku.” Ini adalah permohonan yang penuh dengan harapan dan kepercayaan.
Bait Pengantar Injil mengajak kita untuk bersyukur kepada Tuhan. Dengan refrensi “Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan! Tuhanlah Allah, Dia menerangi kita,” kita mengakui bahwa Tuhan adalah sumber terang dan kehidupan.
Dalam bacaan Injil Matius 10:17-22, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Karena Aku, kamu akan digiring ke muka para penguasa dan raja-raja.” Ini adalah pengingatan bahwa sebagai murid Kristus, kita bisa menghadapi tantangan dan penganiayaan. Namun, kita harus percaya bahwa Roh Bapa akan memberikan kekuatan dan kebijaksanaan yang diperlukan.
Renungan Harian
Saudari-saudaraku yang terkasih dalam Kristus,
Pada hari kemarin, kita merayakan Pesta Natal. Suasana batin kita diliputi sukacita karena kelahiran Yesus, Juruselamat dan Raja damai, Sang Sabda yang telah menjadi manusia dan tinggal di tengah-tengah kita. Tetapi hari ini Gereja mengajak kita untuk merenungkan peristiwa kematian Diakon Stefanus.
Sebagaimana diceritakan dalam Kitab Suci, Stefanus adalah salah satu dari tujuh diakon yang dipilih untuk menolong para rasul dalam karya pelayanan. Dia bertugas dalam karya sosial mengurus para janda dan kaum miskin. Kisah Rasul memperlihatkan secara tajam bagaimana Stefanus yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda bagi kebaikan dan keselamatan orang banyak. Tampaknya ada orang-orang yang tidak menyukainya karena mereka tidak sanggup melawan hikmatnya. Terlebih lagi para anggota Mahkamah Agama sangat tertusuk hati, tidak tahan dan menggertakan gigi, sehingga mereka menyeret Stefanus ke luar kota, lalu melemparinya sampai mati. Stefanus hanya berdoa, katanya: “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.”
Dia dibunuh secara keji karena imannya akan Sang Sabda yang telah menjadi manusia. Senjata utama Stefanus dalam menghadapi penganiayaan ini adalah cintanya yang begitu besar kepada Tuhan. Dan cinta kepada Tuhan ini mendorong dia, sehingga menjelang kematiannya, terucap sebuah doa yang keluar dari mulutnya: “Tuhan, janganlah dosa ini ditanggungkan kepada mereka.”
Saudari-saudaraku yang terkasih dalam Kristus.
Santo Stefanus telah mewariskan kepada kita nilai hidup kristiani yang luar biasa. Pertama, iman yang teguh. Stefanus begitu dekat dengan Tuhan yang diimaninya. Tuhan menganugerahi dia rahmat berlimpah. Banyak mukjizat terjadi atas dirinya. Dalam iman, Tuhan juga pasti memberikan kepada kita berkat berlimpah dalam hidup.
Kedua, berani membela kebenaran. Stefanus tidak gentar menghadapi siapapun dalam situasi yang genting. Dia membela kebenaran iman akan Yesus, Sang Sabda yang menjelma menjadi manusia. Hendaknya kita pun tidak malu bersaksi tentang Tuhan yang lahir di Betlehem. Jangan putus asa bila ada tantangan yang menghadang, bila kita diejek dan diolok-olok karena mengakui Yesus bayi mungil itu.
Ketiga, hargailah kehidupan. Stefanus adalah korban sebuah tindakan kekerasan dan penganiayaan. Kita diajak untuk menghargai harkat dan martabat sesama, menghargai hidup setiap orang. Semua ingin hidup damai dan rukun.
Semoga Natal, meningkatkan iman kita kepada Tuhan, memberanikan kita membela yang benar dan mendorong kita untuk menjunjung tinggi hidup orang lain.
Menjadi murid itu penuh resiko sekaligus merupakan konsekwensi yang harus ditanggung. Yesus sendiri sudah menegaskan bahwa jalan kemuridan adalah menyangkal diri dan memanggul salib setiap hari. Kisah Stefanus menunjukkan resiko kemuridan itu yakni penolakan dan kematian.
Doa
Allah Bapa sumber keselamatan kami. Kami mengucap syukur kepadaMu atas kerahiman yang telah Kaulimpahkan kepada kami. Engkau telah menyelamatkan kami dengan kelahiran PuteraMu terkasih dan menggembirakan kami dengan kelahiran Santo Stefanus martirMu di Surga. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami...Amin.
Sahabatku yang terkasih, Selamat Pesta Natal. Natalku, Natalmu, Natal kita bersama. Salam doa dan berkatku untukmu dan keluarga di mana saja berada: Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus....Amin.